Kualitas udara selama erupsi Anak Krakatau
Data terukur di stasiun airmoni+or yang aktif sejak erupsi menerus dimulai pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB. Halaman ini dibuat ulang otomatis setiap jam.
ISPU terkini di tiap stasiun
Dihitung dari hasil ukur alat di stasiun itu sendiri, memakai rumus dan tabel batas pada PermenLHK No. 14 Tahun 2020. Semakin besar angkanya, semakin buruk udaranya.
IPB Bogor
163 km dari kawah
12ISPU
BaikDitentukan oleh belerang dioksida, parameter tertinggi saat ini.
Hasil ukur 13.00 WIB, Minggu, 13 September 2026
PM dan kimia aerosol: 07.00 WIB, cuplikan 3 jam
BMKG Cibeureum
184 km dari kawah
12ISPU
BaikDitentukan oleh belerang dioksida, parameter tertinggi saat ini.
Hasil ukur 13.00 WIB, Minggu, 13 September 2026
PM dan kimia aerosol: 07.00 WIB, cuplikan 3 jam
ISPU per parameter
Nilai indeks untuk tiap parameter di stasiun yang aktif. Angka terbesar di antara keenamnya itulah yang menjadi ISPU stasiun pada kartu di atas.
| Parameter | Bogor | Cibeureum |
|---|---|---|
| PM2.5 | 4 | 4 |
| PM10 | 4 | 4 |
| SO₂ | 12 | 12 |
| CO | 12 | 12 |
| O₃ | 12 | 12 |
| NO₂ | 12 | 12 |
Nilai terakhir pada 07.00 WIB, Minggu, 13 September 2026.
Rincian parameter
Nilai terakhir tiap parameter di stasiun yang aktif. Gas, cuaca, dan angin dirata-rata per jam; PM dan kimia aerosol berasal dari ACSA-14 yang mencuplik selama 3 jam.
| Parameter | Satuan | Bogor | Cibeureum |
|---|---|---|---|
| Debu halus PM2.5 | µg/m³ | 32.7 | 33.2 |
| Debu kasar PM10 | µg/m³ | 73 | 74 |
| Belerang dioksida | ppb | 0.18 | 0.35 |
| Nitrogen dioksida | ppb | 8.4 | 3.3 |
| Nitrogen oksida | ppb | 0.8 | 0.3 |
| Nitrogen oksida total | ppb | 9.2 | 3.6 |
| Karbon monoksida | ppb | 224.7 | — |
| Ozon permukaan | ppb | 9.7 | 36.3 |
| Karbon dioksida | ppm | 428.4 | 427.3 |
| Metana | ppm | 2.01 | 1.97 |
| Kecepatan angin | m/s | 2.3 | 1.8 |
| Arah angin | ° | 36° (timur laut) | 71° (timur) |
| Suhu udara | °C | 32.9 | 26.9 |
| Kelembapan | % | 32.9 | 46.5 |
| Curah hujan | mm | 0.0 | 0.0 |
Perubahan sejak 4 September
Stasiun aktif ditampilkan pada satu sumbu agar bisa dibandingkan langsung. Garis merah putus-putus adalah ambang kategori "Tidak sehat"; garis oranye menandai awal erupsi menerus.
Rentang grafik: 4 Sep pukul 00.00 WIB sampai 13 Sep pukul 13.00 WIB. Nilai persisnya tersedia dalam bentuk angka pada tabel rincian parameter.
Pemantauan khusus erupsi
Hubungan partikulat, SO₂, dan arah datang angin untuk menilai kemungkinan pengaruh plume Krakatau.
IPB Bogor
Yang terbaca dari data
Dari kawah Anak Krakatau, Bogor berada pada jarak 163 km. Dilihat dari stasiun, kawah berada di arah 290° (barat-barat laut).
SO2 tertinggi di seluruh arah hanya 0.7 ppb — setara udara latar dan jauh di bawah 2 ppb. Pada kadar serendah ini arah angin tidak memberi keterangan apa pun, karena selisih antar sektor tidak lebih besar daripada derau alat. Belum ada tanda belerang vulkanik mencapai stasiun ini.
Jika debu tetap tinggi sementara SO2 datar, data ini belum cukup untuk mengatribusikan partikulat ke Krakatau. Periksa rasio PM2.5 terhadap PM10, arah angin saat episode, curah hujan, dan sumber partikulat lokal.
Angin latar didominasi arah selatan-barat daya dengan kecepatan rata-rata 1.5 m/s. Selama arah itu bertahan, stasiun ini menerima sebaran lebih dulu, lalu wilayah di sisi utara-timur laut yang menerima berikutnya.
BMKG Cibeureum
Yang terbaca dari data
Dari kawah Anak Krakatau, Cibeureum berada pada jarak 184 km. Dilihat dari stasiun, kawah berada di arah 291° (barat-barat laut).
SO2 tertinggi di seluruh arah hanya 1.4 ppb — setara udara latar dan jauh di bawah 2 ppb. Pada kadar serendah ini arah angin tidak memberi keterangan apa pun, karena selisih antar sektor tidak lebih besar daripada derau alat. Belum ada tanda belerang vulkanik mencapai stasiun ini.
Jika debu tetap tinggi sementara SO2 datar, data ini belum cukup untuk mengatribusikan partikulat ke Krakatau. Periksa rasio PM2.5 terhadap PM10, arah angin saat episode, curah hujan, dan sumber partikulat lokal.
Angin latar didominasi arah barat dengan kecepatan rata-rata 1.3 m/s. Selama arah itu bertahan, stasiun ini menerima sebaran lebih dulu, lalu wilayah di sisi timur yang menerima berikutnya.
ISPU per jam
Satu kotak untuk satu jam. Sumbu mendatar adalah hari, sumbu tegak adalah jam WIB. Bentuk ini menunjukkan dua hal yang hilang pada rata-rata harian: pada jam berapa episode terjadi, dan berapa lama berlangsungnya. Kotak bergaris oranye menandai jam mulainya erupsi, 4 September pukul 23.07 WIB.
Bukan angka resmi. ISPU menurut PermenLHK No. 14 Tahun 2020 dihitung dari rata-rata 24 jam, bukan dari nilai satu jam. Angka di sini indikator cepat untuk melihat pola, sedangkan pelaporan resmi tetap memakai nilai harian.
Pergerakan angin per jam
Susunan sama dengan kisi di atas: sumbu mendatar hari, sumbu tegak jam WIB. Panah menunjukkan arah tujuan angin — ke mana udara bergerak — sedangkan warnanya menunjukkan kecepatan. Data mentahnya memakai kelaziman meteorologi yaitu arah datangnya angin, jadi panah digambar berlawanan 180° dari nilai aslinya.
Kotak bergaris kuning menandai jam-jam saat angin datang dari sektor kawah Anak Krakatau. Hanya pada jam-jam itulah abu secara teoritis dapat mencapai stasiun. Angin di bawah 0,5 m/s digambar sebagai titik karena arahnya tidak dapat dipercaya.
Kisi ini melengkapi wind rose, bukan menggantikannya. Wind rose memampatkan seluruh periode menjadi satu bentuk sehingga tidak menunjukkan kapan angin dari arah kawah terjadi dan berapa lama bertahan — padahal justru urutan waktu itu yang menentukan.
Analisis transport abu/plume Krakatau
Penilaian menggabungkan arah angin, PM10, PM2.5, SO₂, dan waktu respons. Kenaikan PM saja tidak dianggap sebagai bukti erupsi.
IPB Bogor: evidence assessment
Status: Bukti campuran / belum konklusif Confidence: LOW
Kawah berada pada arah 290° (barat-barat laut) dari stasiun, berjarak 163 km. Setelah erupsi, angin dari sektor ±30° ini muncul pada 4% jam yang memiliki data angin. Estimasi waktu transport sederhana berdasarkan kecepatan angin pada sektor tersebut sekitar 3479 menit; ini hanya screening, bukan model dispersi atmosfer.
| Parameter | Baseline median | Erupsi median | Perubahan | Angin dari Krakatau median | Arah lain median |
|---|---|---|---|---|---|
| PM2.5 | 43.4 | 33.4 | -23% | — | 19.5 |
| PM10 | 78.5 | 70.7 | -10% | — | 51.1 |
| SO₂ | 0.28 | 0.26 | -6% | 0.56 | 0.19 |
Rasio PM2.5/PM10: baseline 0.50; periode erupsi 0.47. Rasio membantu melihat perubahan komposisi ukuran partikel, tetapi tidak dapat menentukan sumber secara tunggal.
- SO2 ≥1,5× lebih tinggi saat angin dari sektor Krakatau
- angin dari sektor arah Krakatau sangat jarang muncul setelah erupsi
- median PM2.5 tidak meningkat pada periode erupsi
BMKG Cibeureum: evidence assessment
Status: Bukti campuran / belum konklusif Confidence: LOW
Kawah berada pada arah 291° (barat-barat laut) dari stasiun, berjarak 184 km. Setelah erupsi, angin dari sektor ±30° ini muncul pada 41% jam yang memiliki data angin. Estimasi waktu transport sederhana berdasarkan kecepatan angin pada sektor tersebut sekitar 3165 menit; ini hanya screening, bukan model dispersi atmosfer.
| Parameter | Baseline median | Erupsi median | Perubahan | Angin dari Krakatau median | Arah lain median |
|---|---|---|---|---|---|
| PM2.5 | 31.5 | 34.9 | +11% | 37.5 | 47.0 |
| PM10 | 59.6 | 68.1 | +14% | 56.5 | 65.9 |
| SO₂ | 0.33 | 0.37 | +12% | 0.54 | 0.49 |
Rasio PM2.5/PM10: baseline 0.49; periode erupsi 0.49. Rasio membantu melihat perubahan komposisi ukuran partikel, tetapi tidak dapat menentukan sumber secara tunggal.
- angin dari sektor arah Krakatau cukup sering muncul setelah erupsi
- Belum ada indikator yang secara kuat menentang.
Perbandingan respons Bogor dan Cibeureum
Cross-correlation digunakan untuk melihat apakah pola konsentrasi kedua stasiun muncul bersamaan atau salah satunya mengikuti yang lain. Lag positif pada grafik berarti Cibeureum mengikuti Bogor. Hasil ini hanya menunjukkan kesamaan waktu dan tidak membuktikan arah transport plume.
Cara membaca hasil
Jika PM10 tinggi tetapi PM2.5 relatif rendah, kondisi dapat didominasi partikel kasar. Jika SO₂ juga meningkat ketika angin datang dari sektor Krakatau, bukti transport plume menjadi lebih menarik. Sebaliknya, bila PM tinggi tetapi angin dari sektor Krakatau jarang dan SO₂ tetap rendah, data ini lebih mendukung sumber partikulat lokal/regional. Hasil ini adalah evidence assessment, bukan atribusi sumber yang pasti.